Akuntan Balikpapan
Senin, 31 Agustus 2015
Jumat, 28 Agustus 2015
Informasi SNA 18 Medan, 16 September 2015
Yth. Bapak/Ibu
Anggota Ikatan Akuntan Indonesia
Di- Tempat
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) merupakan agenda rutin IAI-KAPd yang membahas hasil-hasil penelitian bidang akuntansi, auditing, pasar modal, sistem informasi, dan perpajakan. Panitia SNA XVIII mengundang para praktisi, peneliti, pendidik, dan mahasiswa untuk mengirimkan hasil-hasil penelitian terbaiknya guna dipresentasikan pada SNA XVIII yang akan diselenggarakan di kota Medan, Provinsi Sumatera Utara dengan Universitas Sumatera Utara sebagai tuan rumah. SNA XVIII mengangkat tema “Peluang dan Tantangan ASEAN Economic Community (AEC) Terhadap Profesi Akuntan Indonesia”. AEC ini akan berlaku efektif pada akhir tahun 2015 dan berdampak terhadap daya saing profesi akuntan di indonesia. Acara SNA XVIII akan dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara dan menghadirkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. M. Nasir sebagai Keynotespeech.
SNA XVIII pada tahun 2015 akan dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumtera Utara dan diperkirakan akan di hadiri oleh 1000 orang peserta dari kalangan masyarakat ilmiah, praktisi bisnis dan pemerintahan dari dalam dan luar negeri. Pemilihan tema ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) didasarkan pada kenyataan bahwa setelah berlakunya AEC kawasan ASEAN akan menjadi kawasan ekonomi yang sangat kompetitif dan terintegrasi dalam ekonomi global, berpengaruh terhadap perekomian nasional dan daerah serta mendorong kebebasan arus perpindahan SDM di segala bidang termasuk jasa akuntansi. Acara SNA XVIII akan dilaksanakan pada:
Tanggal : 16-19 September 2015
Waktu : 08.00 – 17.00 WIB
Tempat : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumtera Utara, Jl Prof Hanafiah SH, Kampus USU, Padang Bulan, Sumatera Utara
Sebagaimana penyelenggaraan SNA sebelumnya pada kegiatan SNA kali ini juga akan dipresentasikan secara paralel hasil-hasil penelitian akuntansi dalam bentuk artikel ilmiah/paper dan pertemuan Forum Dosen dan Forum Ketua Program Studi yang akan membahas isu terkini bidang akuntansi dan bisnis. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studinya. Melalui forum ini pengetahuan penelitian dosen dapat meningkat. Sharing dari para pakar akan membuka wawasan bagaimana melakukan riset dan publikasi sehingga dosen dapat memahami teknik-teknik terbaik dalam penelitian. Secara otomatis pemahaman ini akan digunakan oleh dosen sebagai bekal dalam melakukan penelitian secara mandiri maupun dalam membimbing mahasiswa dalam melakukan penelitian.
Bagi Bapak/Ibu yang berminat, berikut kami lampirkan brosur dan agenda acara SNA XVIII sebagai referensi Bapak/Ibu. Untuk informasi dan pendaftaran SNA XVIII Bapak/Ibu dapat menghubungi IAI di telpon (021) 31904232 ext 333/320/777/222, 3919089, 0878 80903033 atau email: pendidikan@iaiglobal.or.id registrasi@iaiglobal.or.id, formulir terlampir.
Mohon kiranya Bapak/Ibu berkenan mengikuti rangkaian acara ini dan juga dengan mengirimkan perwakilan dari Instansi Bapak/Ibu untuk mengikuti acara ini.
Atas kerjasama dan kesediaan Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.
Minggu, 09 Agustus 2015
Akuntan di Indonesia apalagi di Balikpapan masih sangat minim
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluhkan minimnya jumlah akuntan publik di Indonesia. Meski jumlah rakyat Indonesia lebih dari 237 juta jiwa, namun jumlah akuntan di Indonesia kalah jauh dengan Malaysia yang jumlah penduduknya hanya 27 juta orang.
Wakil Ketua Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI, Roy Iman Wirahardja, mengatakan jumlah akuntan publik yang aktif terdaftar di Indonesia sekitar 700 orang. Sedangkan di Malaysia, jumlah akuntan publik yang terdaftar dan aktif adalah sekitar 5.000 orang. “Jumlah akuntan di Indonesia saat ini masih belum memadai untuk melayani kebutuhan masyarakat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang akuntabel,” katanya.
Bukan hanya kalah dari Malaysia. Sekretaris Umum IAPI Tarkosunaryo di tahun 2010 menyatakan, jumlah akuntan publik di Indonesia hanya 920 orang yang tergabung di 501 Kantor Akuntan Publik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 64 persen telah berusia di atas 51 tahun dan hanya 11 persen berusia kurang dari 40 tahun.
Selain itu, dari jumlah tersebut sebanyak 55 persen berdomisili di Wilayah Jabodetabek dan sisanya menyebar di seluruh Indonesia. Apabila dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN, jumlah akuntan publik di Indonesia yang berpenduduk 230 juta jiwa relatif sedikit.
Singapura dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sekitar 15 ribu orang, Philipina dengan jumlah penduduk 88 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sebanyak 15 ribu orang, Thailand dengan jumlah penduduk 66 juta jiwa mempunyai Akuntan Publik sebanyak 6.000 orang, Vietnam dengan jumlah penduduk 85 juta jiwa mempunyai akuntan publik 1.500 orang.
KAP LIASTA & Rekan0811-540-4750
Jumlah Akuntan di Indonesia belum mencukupi
Indonesia akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA/ ASEAN Economic Community/ AEC) pada akhir 2015. Tujuan AEC diantaranya untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan mengatasi masalah perekonomian di kawasan Asia Tenggara serta untuk meningkatkan daya saing kawasan. Usaha dalam mencapai tujuan ini diantaranya dilakukan dengan menghilangkan hambatan terhadap arus barang, jasa, dan permodalan diantara negara-negara anggota ASEAN.
Untuk menghadapi MEA 2015, Indonesia terlebih dahulu harus mampu mencukupi kebutuhan domestiknya sebelum mengirimkan baik barang, jasa, maupun modal ke negara ASEAN lainnya. Jika tidak, pasar Indonesia akan dibombardir oleh negara ASEAN lainnya yang lebih siap seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini juga berlaku bagi sektor jasa. Di sektor jasa, terdapat 8 jenis jasa yang akan dibuka persaingannya secara regional, salah satunya jasa profesi akuntan. Tantangan bagi akuntan profesional di Indonesia akan semakin kompetitif dengan diberlakukannya pasar bebas sektor jasa dalam MEA 2015.
Menurut sebuah artikel dalam situs IAI yang dipublikasikan pada 3 Februari 2014, ketersediaan akuntan profesional di Indonesia belum mencukupi kebutuhan dunia kerja. Data terakhir menunjukkan, setidaknya dibutuhkan sekitar 452 ribu akuntan. Padahal data Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kemenkeu mencatat hanya tersedia kurang dari 16 ribu akuntan profesional. Dalam artikel yang sama juga disebutkan bahwa jumlah akuntan Singapura, Malaysia, dan Thailand lebih banyak daripada Indonesia. Padahal, dari segi jumlah penduduk Indonesia lebih besar daripada ketiga negara tersebut. Jika kondisi ini tidak dibenahi, Indonesia diserbu akuntan-akuntan dari negara tetangga.
Dalam artikel lainnya disebutkan bahwa jumlah akuntan publik di Indonesia jumlahnya masih kalah dibandingkan dengan Malaysia meskipun jumlah penduduk Indonesia hampir sepuluh kali lebih banyak daripada Malaysia, 237 juta jiwa berbanding 27 juta jiwa. jumlah akuntan publik yang terdaftar di Indonesia jumlahnya hanya 700 orang, sedangkan di Malaysia jumlahnya mencapai 5.000 orang. Data ini diambil pada tahun 2011. Dengan jumlah penduduk dan ukuran ekonomi terbesar dalam regional ASEAN, sudah seharusnya Indonesia menjadi pemain utama dalam MEA, bukan hanya bertindak sebagai penonton.
Hingga awal tahun 2014, setidaknya ada 226.000 organisasi di Indonesia yang memerlukan jasa akuntan. Sementara, Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementerian Keuangan mencatat angkatan kerja yang tersedia kurang dari 16.000. Artinya, Indonesia masih kekurangan tenaga akuntan profesional. Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa kebutuhan akuntan di Indonesia masih belum mampu dipenuhi oleh pasar domestik sehingga untuk memenuhi kebutuhan ini. Indonesia harus menyerap akuntan profesional asing.
Dengan pasar Indonesia yang besar, Indonesia akan menjadi sasaran bagi para akuntan asing yang kualitasnya bukan tidak mungkin lebih baik daripada akuntan Indonesia. Diperlukan kerja sama antarlembaga untuk membuat profesi akuntan lebih dilirik oleh angkatan kerja muda. Selain itu, akuntan Indonesia juga harus memiliki sertifikasi internasional untuk memasuki pasar tenaga kerja ASEAN dalam menghadapi MEA 2015. Dengan kondisi ekonomi yang terus tumbuh, Indonesia membutuhkan lebih banyak akuntan untuk menunjang pertumbuhan ini.
KAP LIASTA & Rekan
Kontak : 0811-540-4750
KAP LIASTA & Rekan
Kontak : 0811-540-4750
Akuntan harus siap menyambut pasar Asian Economic Community 2015
Bersiap Diri Menyambut Pasar Tunggal ASEAN
Pasar tunggal ASEAN dalam kerangka ASEAN Economic Community (AEC) 2015 sudah di depan mata. Pasar tunggal ini akan membuka liberalisasi barang dan jasa di salah satu kawasan dengan tingkat pertumbuhan tertinggi tersebut. Di sektor jasa, ada delapan sektor jasa yang akan dibuka persaingannya secara regional, salah satunya jasa akuntan.
Di Indonesia sendiri, perbandingan ketersediaan akuntan profesional dengan kebutuhan dunia kerja, masih cukup timpang. Data terakhir menunjukkan, setidaknya dibutuhkan sekitar 452 ribu akuntan. Padahal data Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kemenkeu mencatat hanya tersedia kurang dari 16 ribu akuntan profesional.
“Kalau kondisi ini tidak dibenahi, diperkirakan ribuan akuntan regional akan datang berpraktik di Indonesia,” ujar Agus Suparto, Kepala Bidang Usaha Akuntan Publik PPAJP dalam acara Peluncuran Silabus Ujian Chartered Accountant (CA) Indonesia dan Seminar Strategi dan Regulasi Pendidikan Tinggi Akuntansi Sesuai Cetak Biru Akuntan Profesional, di Jakarta hari ini.
“Berdasarkan data, Malaysia, Singapura dan Thailand mempunyai jumlah akuntan yang jauh lebih banyak dari kita,” kata Agus. “Karena itu kita perlu langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan akuntan profesional dalam negeri, baik secara kualitas maupun kuantitas,” tambahnya.
Karena itulah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) hari ini meluncurkan silabus ujian Chartered Accountant (CA) Indonesia dalam rangka menyambut penyelenggaraan ujian CA pertama pada bulan Juni mendatang. Ini adalah upaya menyejajarkan akuntan profesional Indonesia dalam kerangka persaingan di ASEAN Economic Community 2015.
Masa grand fathering CA yang dijadwalkan berlaku sampai 31 Desember 2014 memang masih lumayan lama. Selama masa itu pula IAI telah memberikan lebih dari 5000 sertifikasi CA kepada akuntan profesional Indonesia yang memiliki track record dan kompetensi yang telah teruji dari berbagai sektor. Ini tentunya sudah melalui proses dan seleksi ketat di Dewan Standar Akuntan Profesional (DSAP) IAI, untuk menjamin mereka yang memiliki CA memang layak untuk itu.
CA telah menjadi magnit. Tidak hanya bagi profesi, tapi juga bagi users dari berbagai sektor, sebut saja sektor privat, pemerintahan, akademisi, informal, dan banyak lagi. Hanya dalam kurun waktu setahun saja, sejumlah institusi telah mensyaratkan CA sebagai salah satu indikator kompetensi calon SDM mereka.
Sebagai sebuah sertifikasi, CA tidak dibentuk asal-asalan. CA merupakan jawaban IAI sebagai anggota International Federation of Accountants (IFAC) yang mengharuskan setiap anggotanya merupakan individu yang telah teruji integritas, etika dan kompetensinya, serta ter-update dengan perkembangan terkini dunia akuntansi.
Alasan itulah yang mendorong IAI segera menyelenggarakan ujian CA untuk pertamakalinya pada 18 – 21 Juni mendatang. “Ujian ini akan memastikan kualitas pemegang CA Indonesia sebelum kita melihat aspek yang lebih luas dalam konteks AEC 2015,” ujar Ketua DSAP, Dr. Khomsiyah CA, dalam sambutan di acara yang digelar di Balai Kartini itu.
KAP LIASTA & Rekan
0811-540-4750
Indonesia butuh Akuntan yang profesional
Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) dan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menandatangani kerja sama untuk menjembatani kesenjangan permintaan dan kebutuhan tenaga kerja akuntan profesional sektor publik di Indonesia.
Penandatanganan dilakukan Global Chief Executive of ACCA Helen Brand dan Executive Director of IAPI Ahmadi Hadisubroto didasari oleh desakan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi dan jumlah akuntan profesional di Indonesia.
ACCA merupakan asosiasi global untuk akuntan profesional dengan 162.000 anggota dan 428.000 murid. Saat ini, sertifikasi ACCA telah diakui di 173 negara. ACCA bertujuan menawarkan bisnis yang relevan, kualifikasi pilihan pertama untuk para pendaftar, kemampuan dan ambisi di seluruh dunia bagi para profesional yang mencari karier di bidang akuntansi, keuangan, dan manajemen.
Kebutuhan dunia kerja akan akuntan profesional sangat tinggi. Hingga awal tahun ini setidaknya ada 226.000 organisasi di Indonesia yang memerlukan jasa akuntan. Sementara, Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementerian Keuangan mencatat angkatan kerja yang tersedia kurang dari 16.000. Artinya, Indonesia masih kekurangan tenaga akuntan profesional.
Permintaan datang dari perusahaan berskala besar dan menengah. Sementara, kebutuhan yang tinggi dan serapan pasar ternyata berbanding terbalik dengan ketersediaan angkatan kerja akuntan profesional di Indonesia, yang masih jauh dari cukup. Karier di bidang akuntan profesional dinilai belum menjadi sebuah aspiring career, seperti pengacara, dokter, atau profesi lainnya.
Diperlukan kolaborasi antara lembaga pendidikan profesi, pemerintah, asosiasi industri profesi, dan swasta yang terkoordinasi dengan baik untuk meningkatkan minat angkatan kerja muda, menjadikan akuntan sebagai profesi yang dilirik dan aspiratif.
Di sisi lain, Indonesia segera masuki masa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, di mana pada masa tersebut pasar tenaga kerja di seluruh negara ASEAN terbuka lebar dan semakin mudah untuk dapat bekerja di negara yang termasuk wilayah tersebut. Terlebih bagi mereka yang mempunyai sertifikasi profesi internasional. Hal ini berlaku juga untuk profesi akuntan. Untuk memenuhi potensi dan permintaan pasar tenaga kerja, sektor profesional jasa keuangan perlu berbenah diri agar tidak menjadi tamu di negeri sendiri.
Ekonomi yang terus bertumbuh, membuat Indonesia masuk kelompok negara berkembang dengan potensi ekonomi tinggi bersama Meksiko, Nigeria, dan Turki (MINT). Akuntan profesional miliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam hal memberi keyakinan untuk berinvestasi di Indonesia.
“Indonesia akan membutuhkan para profesional berkualitas di bidang finansial yang memiliki kemampuan untuk mendukung kegiatan ekonomi. Sebagai bagian dari kekuatan ekonomi baru kelompok MINT, Indonesia harus meningkatkan keyakinan dunia bisnis internasional untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi, capacity building dan nation building adalah dua kata kuncinya,” ujar Helen Brand, chief executive ACCA dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/6/2014).
Penandatanganan dilakukan Global Chief Executive of ACCA Helen Brand dan Executive Director of IAPI Ahmadi Hadisubroto didasari oleh desakan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi dan jumlah akuntan profesional di Indonesia.
ACCA merupakan asosiasi global untuk akuntan profesional dengan 162.000 anggota dan 428.000 murid. Saat ini, sertifikasi ACCA telah diakui di 173 negara. ACCA bertujuan menawarkan bisnis yang relevan, kualifikasi pilihan pertama untuk para pendaftar, kemampuan dan ambisi di seluruh dunia bagi para profesional yang mencari karier di bidang akuntansi, keuangan, dan manajemen.
Kebutuhan dunia kerja akan akuntan profesional sangat tinggi. Hingga awal tahun ini setidaknya ada 226.000 organisasi di Indonesia yang memerlukan jasa akuntan. Sementara, Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementerian Keuangan mencatat angkatan kerja yang tersedia kurang dari 16.000. Artinya, Indonesia masih kekurangan tenaga akuntan profesional.
Permintaan datang dari perusahaan berskala besar dan menengah. Sementara, kebutuhan yang tinggi dan serapan pasar ternyata berbanding terbalik dengan ketersediaan angkatan kerja akuntan profesional di Indonesia, yang masih jauh dari cukup. Karier di bidang akuntan profesional dinilai belum menjadi sebuah aspiring career, seperti pengacara, dokter, atau profesi lainnya.
Diperlukan kolaborasi antara lembaga pendidikan profesi, pemerintah, asosiasi industri profesi, dan swasta yang terkoordinasi dengan baik untuk meningkatkan minat angkatan kerja muda, menjadikan akuntan sebagai profesi yang dilirik dan aspiratif.
Di sisi lain, Indonesia segera masuki masa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, di mana pada masa tersebut pasar tenaga kerja di seluruh negara ASEAN terbuka lebar dan semakin mudah untuk dapat bekerja di negara yang termasuk wilayah tersebut. Terlebih bagi mereka yang mempunyai sertifikasi profesi internasional. Hal ini berlaku juga untuk profesi akuntan. Untuk memenuhi potensi dan permintaan pasar tenaga kerja, sektor profesional jasa keuangan perlu berbenah diri agar tidak menjadi tamu di negeri sendiri.
Ekonomi yang terus bertumbuh, membuat Indonesia masuk kelompok negara berkembang dengan potensi ekonomi tinggi bersama Meksiko, Nigeria, dan Turki (MINT). Akuntan profesional miliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam hal memberi keyakinan untuk berinvestasi di Indonesia.
“Indonesia akan membutuhkan para profesional berkualitas di bidang finansial yang memiliki kemampuan untuk mendukung kegiatan ekonomi. Sebagai bagian dari kekuatan ekonomi baru kelompok MINT, Indonesia harus meningkatkan keyakinan dunia bisnis internasional untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi, capacity building dan nation building adalah dua kata kuncinya,” ujar Helen Brand, chief executive ACCA dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/6/2014).
Langganan:
Komentar (Atom)

